Bab 1 – Jejak Langkah
 /  Bab 1 – Jejak Langkah

“Saudara-saudara, pada hari ini dibuka Perguruan Tinggi Teknik Sepuluh Nopember, salah satu usaha investment of human skill, agar kecakapan, akan direalisasikan dalam perguruan tinggi ini…. Maka dengan memohon kepada Allah SWT, segenap taufiq dan hidayah-Nya, bagi Perguruan Tinggi Teknik Sepuluh Nopember dan pangestu pada perguruan tinggi ini.”

Ir. Soekarno (Presiden ke-1 Republik Indonesia), 10 Nopember 1957

ITS adalah salah satu perguruan tinggi yang didirikan setelah kemerdekaan Republik Indonesia oleh perjuangan rakyatnya sendiri. Sebagaimana diketahui, perguruan tinggi yang telah ada sebelum masa kemerdekaan didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda dengan dosen dan sistem pendidikan dari Belanda. Namun, sejak tahun 1955 terjadi “Indonesianisasi” pada perguruan tinggi tersebut. Dosen-dosen Belanda digantikan dengan dosen dalam negeri.

Pada saat lustrum pertama Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Cabang Jawa Timur, Agustus 1957, Ir. R. Soendjasmoro menggagas ide perlunya pendidikan teknik tingkat menengah dan tinggi. Hal ini dikemukakan mengingat pada waktu itu Indonesia hanya memiliki 1300-an insinyur dari 80 juta penduduk Indonesia.  Dari jumlah insinyur tersebut, hanya 500-an orang yang warga negara Indonesia. Mendengar paparan tersebut, seorang dokter umum dr. Angka Nitisastro berinisiatif mengumpulkan tokoh-tokoh, menyusun konsep dan struktur organisasi untuk mendirikan perguruan tinggi teknik di Surabaya. Untuk itu, beliau bersama sama dengan para insinyur PII Cabang Jawa Timur ini memutuskan untuk mewujudkan berdirinya Yayasan Perguruan Tinggi Teknik. Yayasan ini memiliki nama Yayasan Perguruan Tinggi Teknik (YPTT) 10 Nopember. Nama ini dipilih untuk memperingati jasa-jasa pahlawan yang telah gugur pada peristiwa 10 Nopember 1945. Sebuah pilihan nama yang sangat       ikonik dan historik. Yayasan ini resmi berdiri pada tanggal 17 Agustus 1957, yang diketuai oleh dr. Angka Nitisastro.

Pendirian yayasan ini diumumkan secara luas melalui surat kabar dan RRI Surabaya. Pendaftaran mahasiswa baru juga telah dimulai. Pendaftaran ini dilakukan di Jl. Rajawali Surabaya yang merupakan rumah praktek dr. Angka Nitisastro. Pada waktu itu cukup banyak calon mahasiswa yang mendaftar, dan perkuliahanpun dimulai pada September 1957. Selanjutnya, pada tanggal 10 Nopember 1957, Presiden Soekarno meresmikan Perguruan Tinggi Teknik 10 Nopember. Lazimnya nama perguruan tinggi diambil dari nama kota ataupun nama tokoh. Namun nama ini merepresentasikan semangat kepahlawanan dan perjuangan rakyat Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan. Pada saat itu baru terdapat dua buah jurusan yaitu: Jurusan Teknik Sipil dan Jurusan Teknik Mesin.

Setelah beberapa tahun kemudian, perguruan tinggi ini berubah nama dan status menjadi perguruan tinggi negeri dengan nama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sesuai Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.101250/UU tertanggal 3 Desember 1960. Tanggal 10 Nopember 1961 ditetapkan sebagai Dies Natalis ITS pertama melalui peraturan pemerintah No. 9 1961 tertanggal 23 Maret 1961. Pada saat tersebut, ITS telah memiliki 5 buah jurusan yaitu: Jurusan Teknik Sipil, Jurusan Teknik Mesin, Jurusan Teknik Elektro, Jurusan Teknik Perkapalan, dan Jurusan Teknik Kimia.

Pada waktu itu ITS belum mempunyai fasilitas yang semestinya. Kondisinya sangat jauh dari ideal, fasilitas kuliah minim, memiliki sedikit perlengkapan kantor, jumlah dosen dan mahasiswa juga masih sedikit. Kegiatan perkuliahan dan adminstrasi dilakukan pada dua rumah dan satu gudang. Sedangkan kegiatan-kegiatan praktikum dilakukan di luar kampus, karena tidak terdapat alat-alat laboratorium sama sekali. Keadaan ini dapat dimaklumi mengingat ITS dihadapkan dalam situasi dan kondisi perekonomian negara yang sangat buruk.

Pada periode 1964 hingga 1968, ITS memperoleh komplek gedung perkuliahan di Jl. Baliwerti dan kemudian didirikan beberapa bangunan tambahan. ITS juga memperoleh tiga unit laboratorium (Kimia Dasar, Kimia Analitik dan Fisika Dasar), beberapa peralatan laboratorium elektronik dan buku-buku. Fasilitas ini diperoleh dari sumber pendanaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pada masa tersebut, perlu dicatat dan diingat yaitu bantuan dari Angkatan Laut yang disalurkan melalui kerja sama ITS – ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia).

Melalui Pelita I (Pembangunan Lima Tahunan I) Republik Indonesia, ITS melaksanakan rencana pembangunan jangka pendek untuk periode 1969 s/d 1973. Rencana ini berkaitan dengan pembangunan fisik untuk melengkapi kebutuhan-kebutuhan yang sangat mendesak. Rencana ini meliputi pembangunan komplek kampus Cokroaminoto yang terdiri atas tiga gedung bertingkat, pembangunan rumah-rumah dosen, pengadaan alat laboratorium dasar dan laboratorium lainnya, pengadaan buku-buku dan kelengkapan lainnya yang semuanya membutuhkan biaya Rp 425 juta.

Namun, ITS hanya memperoleh anggaran Rp 211 juta atau separuhnya, sehingga dana ini digunakan untuk pembangunan gedung kuliah dan laboratorium di kampus Cokroaminoto seluas  4000 m2 , 4 bangunan di kampus Manyar seluas  1200 m2, 7 buah rumah dosen, pengadaan 650 buah buku, alat-alat laboratorium.

Pada tahun 1960, ITS memiliki jumlah mahasiswa  350 orang dari 5 fakultas/jurusan.  Jumlah tersebut meningkat menjadi   3000 orang pada tahun 1973, yang terbagi dalam 7 fakultas: Teknik Sipil, Teknik Mesin, Teknik Elektro, Teknik Kimia, Teknik Perkapalan, Teknik Arsitektur, dan Ilmu Pasti dan Ilmu Alam. Disisi lain, perkembangan jumlah tenaga edukatif kurang menggembirakan. Hal ini disebabkan antara lain karena kurangnya daya tarik profesi dosen, seperti gaji, fasilitas, perumahan, dan sebagainya. Keadaan fasilitas dan dosen yang jauh dari mencukupi, dan sistem pendidikan yang belum dapat dikatakan baik menyebabkan jumlah lulusan per tahunnya sangat kecil dibandingkan dengan yang diterima. Dalam tahun 1973 perbandingan tersebut sekitar 8%. Ditinjau dari fungsi Tridarma Perguruan Tinggi, maka kegiatan ITS masih sebagian besar pada bidang pendidikan, sedangkan bidang penelitian masih berada dalam taraf permulaan.

Adalah suatu tim yang dibentuk oleh Senat Institut bertugas menyusun Rencana Pengembangan ITS. Tim ini diketuai oleh Bapak Mahmud Zaki dengan anggota: Bapak Oejoe Djoeriaman, Bapak Rachmat Purwono, Bapak Djati Nursuhud, Bapak Deddy Widjaja, Bapak Abdullah, Bapak P. Andrianto, Bapak S. Setiadi, Bapak Soegimin W. W., Bapak W. Surojo, Bapak S. Gundai, dan Ibu S. Aisyah. Tim ini berhasil menyusun Rencana Pengembangan ITS 1974 – 1993. Rencana ini meliputi 3 macam rencana yaitu: (i) Rencana induk (master plan) yang memberikan arah dari perencanaan jangka panjang 20 tahun, (ii) Rencana pengembangan (development plan) yang merumuskan program-program pengembangan untuk 5 tahun, (iii) Rencana tahunan yang berisi cara pelaksanaan tahunannya. Sasaran dari perencanaan ini adalah: pada akhir 1983, diharapkan ITS telah memenuhi fungsi sebagai perguruan tinggi secara sempurna, baik dalam aspek pendidikan sarjana dan pengabdian masyarakat. Setelah 1983, diharapkan ITS dapat berperan lebih baik dalam pengembangan ilmu pengetahuan, sehingga pada akhir 1993, ITS mampu menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan.

ITS telah memiliki aset lahan seluas 187 Ha di kecamatan Sukolilo. Lahan ini dimiliki ITS sejak tahun 1962. Adalah dr. Angka Nitisastro yang visioner, beliau membeli lahan ini dengan harga Rp 25,00 per meter persegi. Pembelian lahan ini menggunakan dana Yayasan dimana juga terdapat hibah dari Presiden Soekarno. Oleh karena itu, rencana pengembangan induk ini bertujuan untuk menciptakan kampus yang lengkap dimana segala kegiatan insitut dapat berlangsung di kampus Sukolilo.

Berdasarkan Rencana Pengembangan ini, ITS mendapatkan usulan pendanaan dari Asian Development Bank (ADB). Usulan ini diterima, dan ITS mendapatkan dana sebesar US $ 25 juta untuk pengembangan empat buah fakultas, yaitu: Fakultas Teknik Sipil, Fakultas Teknik Mesin, Fakultas Teknik Kimia, dan Fakultas Teknik Elektro. Dana ini digunakan untuk pembangunan fisik kampus Sukolilo dan non-fisik berupa pengembangan kurikulum, fasilitas laboratorium, dan beasiswa tugas belajar dosen.  Pembangunan kampus Sukolilo tahap I dengan dana ADB ini dapat diselesaikan dan diresmikan pada tanggal 27 Maret 1982.

Pada tahun 1983, terjadi perubahan struktur organisasi yang berlaku bagi seluruh perguruan tinggi di Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden No. 58 Tahun 1982. Dengan ini, ITS memiliki 5 buah fakultas yaitu Fakultas Teknik Industri, Fakultas Teknik Perkapalan, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, dan Fakultas Non Gelar Teknologi.

Pada tahun 1991, ITS mengalami perubahan struktur lagi, terdiri dari 4 buah fakultas, yaitu: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Fakultas Teknologi Industri (FTI), Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), dan Fakultas Teknologi Kelautan (FTK). Jurusan-jurusan dalam naungan Fakultas Non Gelar Teknologi dimasukkan ke dalam jurusan-jurusan yang ada di FTI dan FTSP. Selain itu, ITS memiliki dua buah politeknik yaitu: Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) dan Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS). Pada tahun 1994, melalui  dana pinjawan ADB sebesar US $ 47 juta, ITS menyelesaikan pembanggunan untuk seluruh fakultas dan khususnya untuk pengembangan FTK. Sedangkan pada tahun 2001, ITS mendirikan satu fakultas baru yaitu Fakultas Teknologi Informasi (FTIf). Dan pada tahun 2012, PENS dan PPNS berdasarkan aturan pemerintah harus melepaskan diri dari ITS. Dari awal berdiri sejak dinyatakan sebagai perguruan tinggi negeri hingga saat ini, ITS dipimpin oleh 11 orang rektor, yaitu:

  1. dr. Angka Nitisastro (1960 – 1964)
  2. Kol. Laut Ir. Marseno Wirjosapoetro (1964 – 1968)
  3. Prof. Ir. R. Soemadijo (1968 – 1973)
  4. Prof. Mahmud Zaki, MSc (1973 – 1977, 1977 – 1982)
  5. Harjono Sigit BS (1982 – 1986)
  6. Prof. Oedjoe Djoeriman, MSc. PhD (1986 – 1991, 1991 – 1995)
  7. Prof. Soegiono (1995 – 1999, 1999 – 2003)
  8. Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA (2003 – 2007)
  9. Prof. Ir. Priyo Suprobo MS. PhD (2007 – 2011)
  10. Prof. Dr. Ir. Triyogi Yuwono, DEA (2011 – 2015)
  11. Prof. Ir. Joni Hermana, MSc ES PhD (2015 – sekarang)

Kondisi ITS saat ini

Pada tahun 2015 ini, ITS memiliki 5 buah Fakultas: FMIPA, FTI, FTSP, FTK, dan FTIf dengan 28 jurusan.  ITS memiliki dosen berjumlah 907 orang, staf pendidikan dan administrasi berjumlah sekitar 900-an orang, dan mahasiswa berjumlah 18701 orang (sumber LPTSI ITS rekap 2014). ITS memiliki komplek Kampus Sukolilo dengan luas bangunan 150.000 meter persegi, komplek Kampus Manyar yang ditempati program diploma Teknik Sipil, dan kampus ITS Cokroaminoto yang digunakan untuk program magister manajemen.

Pada bidang pendidikan, ITS telah memiliki berbagai program studi D3, S1, S2 dan S3. Semua program studi di ITS memiliki capaian pembelajaran yang sesuai dengan KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia). KKNI adalah kerangka penjenjangan kualifikasi dan kompetensi tenaga kerja Indonesia yang menyandingkan, menyetarakan, dan mengintegrasikan sektor pendidikan dengan sektor pelatihan dan pengalaman kerja dalam suatu skema pengakuan kemampuan kerja yang disesuaikan dengan struktur di berbagai sektor pekerjaan.  Kegiatan belajar mengajar (KBM) tidak hanya dilakukan di ruang kelas saja. ITS telah memulai mengembangkan pendidikan berbasis laboratorium (Lab Based Education/ LBE). Dengan LBE ini diharapkan Tridarma perguruan tinggi dapat dilaksanakan secara efektif. Mahasiwa dalam kegiatan pembelajaran diperkenalkan dengan kegiatan riset terkait yang dilaksanakan di laboratorium. Kerjasama pendidikan dengan negara lain juga telah banyak dilakukan melalui skema joint degree dan double degree.

ITS memiliki sistem informasi manajemen pendidikan yang modern. Data mata kuliah, mahasiswa, dosen, perencanaan studi mahasiswa, transkrip nilai, ijazah, indeks prestasi mahasiswa, indeks prestasi dosen, kesemuanya terintegrasi dalam sistem integra ITS. Demikian pula, ITS memiliki sistem e-learning yang telah menampung lebih dari 900 mata kuliah. Sistem e-learning ITS ini adalah salah satu situs rujukan nasional dan pembanding dalam pelaksanaan program e-learning bagi perguruan tinggi lainnya di Indonesia.

Pengembangan kehidupan kemahasiswaan dilakukan sangat serius di ITS. Pembentukan profil pribadi mahasiswa ITS dengan slogan CAK (Cerdas, Amanah, Kreatif) dilakukan dengan penggabungan matra akademik dan kemahasiwaan. Profil mahasiswa yang memiliki kecakapan dalam kepemimpinan, kerjasama, dan komunikasi, adalah perhatian utama dari progam pengembangan kehidupan kemahasiswaan. Melalui ajang kompetisi nasional dan internasional, mahasiswa ITS telah mampu membanggakan ITS dan juga mengharumkan nama Bangsa dan Negara.

ITS memiliki mata kuliah umum yang berkonsep problem based learning dan project based learning. Hal ini diterapkan untuk meningkatkan kemampuan softskill dan pembentukan karakter dengan cara mengintegrasikan kegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler serta melibatkan pusat-pusat studi, bisnis ventura serta inkubator ITS. Mata kuliah ini adalah Wawasan kebangsaan, Wawasan Teknologi dan Komunikasi ilmiah, dan Technopreneuship.

Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) adalah program nasional yang diselenggarakan tiap tahun oleh direktorat pendidikan tinggi (DIKTI) sejak tahun 2001. PKM ini terdiri dari beberapa kompetisi antara lain: penelitian, penerapan teknologi, pengabdian masyarakat, dan karya tulis. Saat ini kegiatan PKM merupakan bagian penting dari pembinaan kemahasiswaan di ITS. Bahkan sejak tahun 2013, kontingen ITS dalam pekan ilmiah mahasiswa nasional (PIMNAS) senantiasa mengukir prestasi dan  berada dalam papan atas nasional.

Beberapa prestasi mahasiswa dan tim kemahasiswaan ITS di kancah nasional dan internasional ini antara lain: kontes robot ABU Indonesia (KRAI), pemenang kompetisi nasional NASDARC (National Ship Design and Race Competition), International Mathematics COmpetition (IMC), Shell Eco Marathon ASIA, Chemical Engineering Car Competition, lomba nasional GEMASTIK, dan sebagainya.

Kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan melalui penelitian adalah dharma penting suatu perguruan tinggi. ITS masih terus meningkatkan kegiatan penelitiannya  untuk dapat menjadi pusat dunia dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Salah satu indikator penting dari kegiatan penelitian perguruan tinggi ini adalah jumlah publikasi terindek dalam majalah ilmiah dan prosiding terdaftar. Dalam hal ini, secara nasional menurut database scopus, ITS berada dalam peringkat 6, setelah Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), Universitas Gajah Mada (UGM), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Dalam hal akreditasi, ITS terakreditasi A secara institusi. Akreditasi ini dikeluarkan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi. Terdapat tiga buah akreditasi yaitu A, B, dan C, dimana A adalah kriteria terbaik. Sedangkan untuk akreditasi di tingkat program studi, 82% program studi S1 telah terakreditasi A.

Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ristek Dikti) telah mengumumkan hasil klasifikasi dan pemeringkatan Perguruan Tinggi di Indonesia pada Agustus 2015. Pemeringkatan ini dilakukan untuk memberikan informasi kepada masyarakat Indonesia. Pemeringkatan ini berdasarkan laporan perguruan tinggi Indonesia di Pangkalan Data Perguruan Tinggi dan data eksternal Badan Akreditasi Nasional-Perguruan Tinggi (BAN-PT) per Desember 2014. Terdapat 11 perguruan tinggi terbaik di Indonesia, dan ITS berada di peringkat ke-5, setelah ITB, UGM, IPB, dan UI.

ITS kini sedang menghadapi berbagai perubahan. ITS berstatus PTNBH (Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum) dengan ditandatangani statuta oleh Presiden RI Joko Widodo pada tanggal 22 Juli yang lalu.  Dengan status PTNBH, ITS memiliki kewenangan untuk mengelola akademik, keuangan maupun tata pamong. Struktur organisasi juga mengalami perubahan dengan akan dibentuknya Majelis Wali Amanat (MWA) dan Senat Akademik (SA). MWA diberi kewenangan untuk mengurus hal-hal yang berkaitan dengan bidang non-akademik. MWA akan diisi oleh 17 orang anggota, dimana juga akan terdapat 1 orang perwakilan mahasiswa. Sedangkan SA akan mengurusi hal-hal di bidang akademik, termasuk mengurusi pendirian/penutupan program studi. Status PTNBH akan memberikan pengaruh pada kehidupan civitas akademika. Antara lain, proses pembelajaran diarahkan untuk dapat menunjang penelitian sehingga jumlah publikasi ilmiah meningkat. Kuantitas dan kualitas publikasi ilmiah sangat penting untuk pengukuran reputasi suatu perguruan tinggi.

Kegiatan Terdekat


ALAMAT

Gedung E
Jurusan Teknik Fisika
Fakultas Teknologi Industri (FTI)
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Surabaya 60111
Jawa Timur
Indonesia