Bapak Surachman
 /  50 Tahun JTF / Bapak Surachman

Bapak Surachman

50 Tahun JTF

Ketika saya mendaftarkan diri sebagai peserta UMPTN pertama kali yang terlintas dalam benak saya adalah saya harus memilih kampus teknik besar di Indonesia sebagai wadah saya untuk menimbah ilmu dan jurusan yang akan saya pilih adalah jurusan yang beda dan terdengar asing dengan jurusan jurusan lainnya. Pilihan ini menurut saya sangat rasional mengingat di daerah asal saya begitu banyak alumni universitas dan bergelar sarjana teknik yang kebanyakan dari mereka banyak berasal dari latar belakang jurusan teknik sipil, teknik mesin, teknik elektro ataupun teknik arsitektur.  Kampusnya pun tidak pada kampus khusus keteknikan namun pada universitas umum sehingga jika saya berhasil lulus di ITS dan Teknik Fisika saat itu maka saya adalah orang kedua dari daerah saya (Kabupaten Muna Sulawesi Tenggara) setalah Mustakim (Angkatan 1993 atau 1994) yang kuliah di jurusan Teknik Fisika ITS.  Oleh karena iu saat saya dinyatakan lulus UMPTN dan berhasil menggaet satu kursi di Jurusan Teknik Fisika maka saya sangat bangga dan terharu karena saya dapat menjadi  salah satu mahasiswa pada Kampus Teknik terbesar di Indonesia dan sekaligus menjadi mahasiswa Teknik Fisika ITS yang notabene adalah jurusan yang saat itu hanya ada di empat universitas di Indonesia. Saya merasakan bahwa  saat itu saya adalah salah satu siswa yang beruntung di Indonesia.

Saat saya menginjakan kaki di Kampus TF saya merasakan sudah cukup memadai fasilitas pendidikan yang ada. Hanya saja lingkungan kampus TF saat itu utamanya disekitar Hutan TF masih terlihat kumuh dan belum tertata.  Sedangkan iklim perkuliahan umumnya sudah sangat kondusif dimana hubungan dosen / karyawan dan mahasiswa begitu guyub dalam bingkai kekeluargaan. Memang masih ada saja oknum-oknum dosen saat itu yang menurut saya masih tidak demokratis dalam membangun semangat pembelajaran kepada mahasiswa namun saya sadari bahwa style oknum-oknum dosen tersebut tak lebih dari sebuah upaya untuk menempa kami agar menjadi mahasiswa yang kelak ketika menyelesaikan studi di Teknik Fisika ITS dapat menjadi manusia yang survive dalam mengarungi dunia diluar kampus yang lebih real dan penuh tantangan.

Pengalaman yang sangat berkesan ketika kuliah saat itu adalah saat berstatus sebagai mahasiswa baru dan diwajibkan mengikuti PLMTF (Pengenalan Lingkungan Mahasiswa Teknik Fisika), saat itu saya adalah salah satu mahasiswa baru yang mendapatkan hukuman malam oleh Dewan Adat. Hukuman yang saya dapatkan sesungguhnya sangat mendidik yaitu merakit kembali PC yang telah diutak atik oleh DA. Namun yang menjadi kendala saya saat itu adalah ketidakfahaman saya terhadap PC. Maklum saya adalah mahasiswa yang tidak begitu familiar dengan PC (efek anak kampung diluar Jawa). Untuk menghadapi Dewan Adat tentu saya butuh persiapan sehingga atas saran beberapa teman, saya diharuskan  untuk mengikuti kursus singkat pada Roy Oktavianus (F-36). Alhamdulillah dalam waktu ± 3 – 4 jam saya dapat memahami PC dalam format yang ditutrialkan oleh Roy sehingga ketika berhadapan dengan Dewan Adat saya begitu percaya diri bahwa akan mampu menyelesaikan tugas yang mereka embankan. Namun tak disangka Dewan Adat ternyata punya skenario lain, spare part PC dibiarkan berserakan tak menentu sehingga saya kesulitan dalam merangkai PC tersebut karena sangat berbeda kondisi spare partnya dengan tutorial singkat Roy. Akhirnya karena kegagalan saya saat itu maka saya bersama teman (Ahmad Muhyiddin) disuruh untuk menghapus catatan-catatan dipapan tulis yang masih menggunakan kapur dengancara mengosokan pipi masing-masing pada papan tulis tersebut. Dapat dibayangkan wajah kami pada malam itu (Lokasi Ruang Teater C) dipenuhi oleh warna putih kapur tulis. 

a. Setelah menamatkan diri dari kampus ITS pada Tahun 2005, saya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman. Pertimbangan saya saat itu adalah bahwa lulusan Kampus Terbaik harusnya memberikan kontribusi bagi pembangunan di Indonesia. Jalur kontribusi yang terbaik bagi saya adalah dengan membangun daerah asal. Bagi saya alumni ITS secara umum ataupun  alumni TF ITS secara khusus harus berpikir bahwa ruang pengabdian alumni TF itu bukan saja pada Industri-Industri Swasta kakap dan kerap menghamba pada kepentingan asing namun juga harus berorientasi pada pelayanan kemasyarakatan di daerah terpencil, pulau kecil, daerah perbatasan, daerah terisolir dan terluar. Jangan biarkan daerah-daerah tersebut semakin tertinggal karena dihuni hanya oleh orang-orang yang memiliki keterbatasan pendidikan sementara putra-putra terbaik yang ada lebih memilih gemerlap Ibu Kota Negara (Jakarta) sebagai pusat aktivitas  mereka. Oleh karena itu Dunia Perkuliahan di TF juga harus mencerminkan keberpihakan pada masyarakat yang tertinggal. Jangan hasilkan alumni TF yang pada akhirnya tak lebih dari robot industry yang tak memiliki nurani dan kepedulian akan lingkungan sekitar . Untuk itu lah dengan kebesaran jiwa saya memutuskan untuk mendedikasikan diri pada pelayanan kemasyarakatan melalui jalur PNS Daerah. Alhamdulilah pada Tahun 2006 saya resmi diangkat sebagai PNS di Kabupaten Muna dan ditempatkan pada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. Jadi Alumni TF juga bisa dan mampu menjadi planner bagi pembangunan daerah di Bidang Infrastuktur khususnya pada wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.  Dan saat ini saya menempati Kepala Bidang Perencanaan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Muna Barat.

Selama kurang lebih 9 (sembilan) tahun ini pengalaman penting yang berkesan adalah ketika saya diamanhkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum sebagai Kepala Satuan Kerja (Satker) PIP (Program Infrastuktur Perumahan) yang membawahi 2 (dua) Program yaitu Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) dan Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP). Saya diamankan mengendalikan program tersebut dalam kurun waktu 4 tahun (2011 – 2014). Selama 4 (empat) tahun saya bergelut dengan masyarakat miskin pada wilayah perkotaan dan perdesaan. Sehingga rutinitas saya hampir setiap hari turun kelokasi-lokasi pendampingan dan bertemu masyarakat untuk memberikan solusi atas setiap masalah yang berkaitan dengan pemenuhan infrastruktur dasar masyarakat baik sektor sanitasi, air bersih, jalan dan jembatan. Atas pengalaman selama mendampingi program tersebut saya semakin menyadari bahwa masyarakat sangat membutuhkan kehadiran alumni Perguruan Tinggi terbaik di Indonesia untuk turun secara langsung menyelesaikan masalah-masalah yang mereka hadapi. Semoga Alumni TF kedepan dapat berpikir kearah yang sama dengan garis aktivitas yang sedang saya geluti saat ini. 

Saat aktif di HMTF sempat terlibat dalam penyusunan AD/ART HMTF ketika HMTF dipimpin oleh Amin Tohari, pernah menjadi SC PLMTF dan sempat mengadu nasib menjadi Calon Presiden BEM ITS pada Tahun 2003. Semasa kuliah sempat menempa diri pada jalur organisasi HMI dan pernah diamanahi sebagai Ketua Umum Koordinator Komisarat HMI Sepuluh Nopember (2004-2005). Sempat menjadi salah satu pentolan Front Aksi Himpunan Mahahasiwa Islam (FAHMI) Surabaya, saat kenaikan BBM di zaman Presiden Megawati pernah menjadi Korlap Demonstrasi dan pada akhirnya diundang oleh TVRI Jatim sebagai salah satu panelis dalam diskusi yang disiarkan langsung oleh TVRI Jatim. Akibat siaran tersebut, pada pagi hari esoknya ketika kuliah diguyonin oleh Ibu Dr. Aulia (Istri Pak Syamsul) bahwa saya menjadi artis dadakan hanya karena nongol di TVRI. Semua itu adalah lintasan kecil dari banyak lintasan yang saya lalui sat menjadi mahasiswa. Dan hal tersebut sangat bermanfaat dalam menunjang karir saya khususnya dalam Team Work, Pengambilan Keputusan, lobi dan Kepemimpinan serta kemampuan untuk berhadapan dengan audience. Serta yang tak kalah penting adalah pemahaman akan arti penting pada jalur pengabdian kepada masyarakat secara langsung.

Untuk pengembangan pendidikan Teknik Fisika di ITS, saya menyarankan hal-hal berikut: 1) Riset yang dikembangkan hendaknya menjawab kebutuhan masyarakat khususnya pada wilayah pesisir, pulau kecil, daerah terpencil dan perbatasan.  2) Teknologi yang dikembangkan juga harus berimbang antara high-tech dan applicable bagi masyrakat khususnya pada wilayah pesisir, pulau kecil, daerah terpencil dan perbatasan. 3) Dosen TF yang bergelar professor baru satu yaitu Yth. Prof Sekartedjo. Semoga dosen-dosen lainnya memacu diri untuk melakukan riset-riset sehingga dapat menambah jumlah profesor. 4) Dosen TF saat ini untuk ditingkatan struktural kampus jangan hanya berpikir pada tataran jurusan ataupun dekanat namun saya berharap kelak Dosen TF dapat percaya diri maju dalam ajang kompetisi pemilihan Rektor ITS. Akhirnya, saya berharap TF ITS harus tetap bertahan selama peradaban manusia masih bertahan di Bumi Indonesia.

ALAMAT

Gedung E
Jurusan Teknik Fisika
Fakultas Teknologi Industri (FTI)
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Surabaya 60111
Jawa Timur
Indonesia