Ibu Suhariningsih
 /  50 Tahun JTF / Ibu Suhariningsih

Ibu Suhariningsih

Screen Shot 2016-05-04 at 9.27.10 AMSejak SMA saya senang Fisika, tetapi karena yang ngetop pada saat itu teknik Arsitektur dan teknik Sipil, maka saya mendaftar teknik Arsitektur sementara sahabat saya mendaftar di teknik Sipil. Hasil tes saya gagal dan sahabat saya berhasil, dengan perasaan sedih saya pulang kampung. Tanpa memberitahu saya ternyata sahabat mendaftarkan saya ke jurusan fisika Fipia, singkat cerita saya ikut tes dan alhamdulillah diterima di Fisika teknik angkatan ke 6 (F6).

Ruang kuliah di Baliwerti paling pojok bau sangat pesing, bangku kuliah besar-besar, tempat duduknya bangku panjang dempet-dempetan, kuliah lumayan teratur, dan resposni juga lancar. Namun sering setiap pengumuman hasil ujiannya Nihil (tidak ada yang lulus), atau paling banyak 10 orang yang lulus dari sekitar 200 mahasiswa. Waktu itu belum  menggunakan Sistem Kredit Semester (SKS), di kurikulum, lama kuliah 5 tahun tetapi hanya ada 1-2 mahasiswa yang lulus 5 tahun,  rata-rata diatas 8 tahun. Penyesuaian satuan kredit semester (sks) baru ada setelah saya tingkat 3 naik ke tingkat 4. Setelah dikonversi ke SKS, ternyata beban studi saat itu  208.5 sks, tidak termasuk skripsi.

Prof. Zaki dosen yang sabar, murah senyum namun sangat disiplin, kalau kuliah jam 7, jam 7 kurang beliau sudah ada di kelas (sekarang saya contoh).  Saya termasuk korban kedisiplinan beliau, saat ada penyesuaian penghitungan sks, saya kurang ½ sks dari total yang harus saya tempuh, keputusan beliau saya tidak bisa naik ke tingkat 4 (padahal bukan kesalahan saya, karena saat itu praktikum bengkel gelas memang tidak diselenggarakan).  Besuknya saya menghadap wakil Dekan Dr. Abdul Salam yang tinggi besar, nampak angker ternyata hatinya lembut, saya diijinkan naik ke tingkat 4, alhamdulillah. Meskipun demikian, Prof. Zaki tetap menjadi dosen favorit saya, buktinya dalam banyak hal saya mencontoh beliau.

Sebagai dosen PNS, saya patuh pada aturan yang ada yaitu melaksanakan Tri Darma Perguruan Tinggi, memberi kuliah tepat waktu, aktif melakukan penelitian sampai dengan memperoleh PATEN, kemudian hasil penelitian saya sampaikan dalam kegiatan Pengabdian pada masyarakat, itu saja. Tentu juga melakukan pengembangan diri dengan mengikuti berbagai pelatihan dan melanjutkan kuliah. 

Saya menyadari bahwa setiap kita harus mempunyai kompetensi khusus, harus bisa membaca peluang. Alhamdulillah saya kuliah di Fisika, yang merupakan akarnya ilmu, sehingga mempunyai peluang besar masuk ke semua bidang ilmu. Sebagai dosen di Universitas Airlangga yang sudah terkenal dalam bidang medisnya, saya mempunyai kesempatan mengembangkan Biofisika, mempelajari fisika dalam bidang kehidupan, medis, maupun tradisional. Saya berusaha menyajikan kajian ilmiah berdasarkan teori dan hasil penelitian, melalui pelatihan, seminar di kemenkes dan ke berbagai institusi kesehatan, dan hasilnya selain menjadi dosen biofisika saya juga mendapat kepercayaan dari Kemenkes menjadi ketua SP3T Jatim (Sentra Pengembangan, Penerapan , Pengobatan Tradisional), yang salah satu tugasnya adalah melakukan penapisan terhadap terapi-terapi tradisional, alternatif,  dan komplementer yang tidak mempunyai dasar ilmiah. Meskipun demikian ternyata tidak mudah melakukan penapisan terhadap metode terapi yang tidak ada dasar ilmiahnya, bahkan membahayakan masyarakat, karena banyaknya kepentingan, birokrasi dsb. Namun sebagai seorang ilmuwan saya tetap berusaha menyampaikan kajian ilmiah dan hasil penelitian yang telah dilakukan di laboratorium Biofisika. Akhirnya pada tahun 2005 bersama sejawat dosen mendirikan D3 Battra (Pengobat Tradisional), Unair adalah yang pertama di Indonesia, mendapat respon positif dari Kemenkes, Dikti, bahkan Presiden, sehingga tahun 2014 dikembangkan lagi menjadi D4 Battra (setara dengan S1). Harapan ke depan di Indonesia akan ada dokter konvensional dan dokter tradisional, sehingga masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan yang optimal.

Dalam usaha mengilmiahkan terapi tradisional, berusaha memproduksi alat kesehatan tradisional, dengan merancang alat-alat yang diperlukan dalam pengobatan tradisional, juga merintis adanya standarisasi peralatan non konvensional. Disamping juga memproduksi alat kesehatan konvensional yg sederhana sehingga terjangkau dana puskesmas. Semua kegiatan tersebut sudah mulai dirintis di laboratorium Biofisika Fakultas Sains dan Teknologi Unair, sekarang dikembangkan di ITD UA yang bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan alat kesehatan.

Pengalaman organisasi sangat penting dalam menunjang karier di bidang apapun, meskipun saya terlambat dalam berorganisasi. Dalam organisasi kita dilatih bagaimana berkerjasama dalam kelompok, dll. Juga sangat perlu mengikuti pendidikan/pelatihan di luar negeri untuk  memperluas wawasan, melatih kemandirian, dan membangun jaringan komunikasi.

Saran saya dalam pengembangan pendidikan Teknik Fisika ini adalah semoga selalu melihat kebutuhan stakeholder, yang kemudian diterjemahkan dalam bentuk kompetensi mahasiswa yang dihasilkan, ke dalam kurikulum, dengan tanpa meninggalkan basic science Fisika.

Selamat dan sukses almamaterku tercinta, semoga dengan usiamu yang semakin matang semakin berkilau dikancah pendidikan ………terima kasih ……terima kasih almamaterku engkau telah mengantarkan  aku menjadi penerusmu mendidik generasi muda menjadi manusia yang mandiri, yang bermanfaat bagi keluarga dan lingkungannya.

Suhariningsih (F6)

Riwayat Pendidikan

Lulus sarjana Fisika Teknik ITS (1978)

Lulus pascasarjana Biofisika S3 MIPA UNAIR (1999)

Riwayat Pekerjaan

Dosen dan Guru Besar Jurusan Fisika Universitas Airlangga Surabaya (1978 – sekarang)

Leave a comment

ALAMAT

Gedung E
Jurusan Teknik Fisika
Fakultas Teknologi Industri (FTI)
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Surabaya 60111
Jawa Timur
Indonesia