Kolom TF Kita – No. 3
 /  TF KITA / Berita / Kolom TF Kita – No. 3

Kolom TF Kita - No. 3

Pesan bijak

Para pembaca yang budiman,

Pesan bijak, kata mutiara, kata berhikmah, banyak kita temui di berbagai media. Baru-baru ini, kami menemukan sebuah pesan bijak yang beredar di media sosial. Konon, pesan bijak ini disampaikan oleh KH. Maimun, dan begini bunyi pesan tersebut: ”Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar atau tidak, serahkan kepada Allah. Didoakan saja terus menerus agar muridnya mendapat hidayah.”

Tentu pesan ini sangat relevan dengan bisnis utama kita di institusi pendidikan. Kami juga pernah mendengar pesan dari para orang tua, seperti: “Kuliah bukanlah untuk mencari kerja, Kuliah-lah dengan baik untuk mendapat ilmu yang bermanfaat.” Atau, pesan serupa lainnya, “Janganlah kau niati berdagang itu untuk mengejar untung semata, karena rizki-mu sudah ditakar oleh-Nya. Niatilah dagang ini supaya orang yang berdagang denganmu menjadi orang yang baik”

Dari pesan-pesan bijak diatas, menunjukkan bahwa keinsyaafan seseorang melakukan sesuatu bergantung kadar niat-nya. Tentu saja niat baik tidak cukup dan belum tentu menghasilkan sesuatu yang baik. Kami tidak bermaksud membahas tentang bab niat ini, namun, hanya ingin menunjukkan bahwa banyak pesan bijak yang diciptakan oleh seseorang berdasarkan pemahaman dan pengalamannya. Suatu saat nanti, kami akan membaca pesan bijak dari para pembaca, atau setidaknya sudah ada “embun pagi”.

Pada edisi ini, kami menampilkan satu buah tulisan yang berjudul “Profesor saja tidaklah cukup”

Selamat membaca!

Redaksi TF KITA

Baca dan unduh: No 3 – Kolom JTF


Profesor saja tidaklah cukup

Oleh Agus Muhamad Hatta

Pada 29/10/2015, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi menggelar Seminar Nasional Keprofesian. Pada pertemuan tersebut diungkapkan bahwa jumlah profesor di negara kita terlalu sedikit, dan dinilai kurang berkualitas dan tidak produktif. Selangkah kemudian beberapa opini dimuat dalam waktu berdekatan di harian nasional.

Agus Suwignyo (Kompas, 29/10/2015) dalam “Menggugat Profesor” menyatakan bahwa sebenarnya rasio profesor dan dosen di negeri ini tidaklah jelek, dan di negara majupun memiliki rasio yang serupa. Mestinya, jika para profesor kembali ke laboratorium dan konsentrasi ke bidang ilmunya, maka produktivitas riset akan membaik.

Setelah itu, Terry Mart (Kompas, 12/11/2015) mengusulkan dua hal. Pertama, pemisahan jabatan profesor dari sistem jabatan dan penggajian pegawai negeri. Kedua, memanfaatkan UU No 14 tahun 2015 tentang Guru dan Dosen, dimana terdapat pasal tentang profesor paripurna. Perguruan tinggi berhak mengangkat profesor paripurna yang mumpuni di bidangnya. Diharapkan dengan dua hal ini, perguruan tinggi memiliki profesor yang aktif mengembangkan bidang keilmuannya.

Artikel berjudul “Profesor untuk apa?” ditulis oleh Hendra Gunawan (Kompas, 14/11/2015). Hendra Gunawan menawarkan pengangkatan profesor merupakan bagian dari strategi perguruan tinggi guna mewujudkan visi dan misi-nya. Seperti lazimnya di luar negeri, perguruan tinggi membuka lowongan terbuka untuk jabatan profesor yang diinginkan. Hanya profesor yang sesuai dengan visi misi perguruan tinggi yang direkrut, sehingga PT tersebut pusat pengembangan keilmuan tertentu.

Ketiga opini diatas menjelaskan bahwa peranan profesor di Indonesia masih belum maksimal.  Peranan profesor memang sangat penting sebagai panglima dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Namun, tidaklah cukup hanya menuntut peranan profesor dan meletakkan tanggung jawab pengembangan IPTEK kepadanya.

Screen Shot 2016-05-02 at 8.21.03 PMMenurut Agus Suwignyo, jumlah artikel publikasi internasional kita akan naik, jika tiap profesor menjadi produktif.  Katakanlah tiap profesor menghasilkan 1 atau 2 artikel publikasi internasional, maka akan ada sekitar 15000 artikel per tahun. Namun, patut diketahui jumlah inipun masih dibawah produktivitas peneliti di negeri jiran. Demikian pula dengan jabatan profesor paripurna dan rekrutment profesor secara terbuka yang diusulkan diatas. Usulan ini akan terbentur kemampuan keuangan perguruan tinggi, dan sistem penggajian pegawai negeri seperti saat ini yang sangat tergantung pada anggaran negara.

Belajar dari bangsa lain

Para abad 9 – 11 yang dikenal sebagai Islamic Golden Age, terdapat banyak ilmuwan yang muncul pada era tersebut seperti Ibnu Sina, Al Biruni, Ibnu Al Haytham dan sebagainya. Mereka inilah founding father berbagai ilmu pengetahuan yang kontribusinya dapat dinikmati hingga saat ini. Para ilmuwan tersebut tidaklah muncul secara tiba-tiba. Pada waktu tersebut, gerakan penerjemahan buku dilakukan secara besar-besaran. Seluruh buku-buku pengetahuan dari berbagai bangsa diterjemahkan dalam satu bahasa yaitu bahasa arab. Para penerjemahpun mendapatkan ganjaran emas seberat buku yang diterjemahkan. Pusat penelitianpun berdiri disana, para ilmuwan terbaik dari berbagai penjuru berkumpul untuk mengembangkan berbagai cabang ilmu. Kontribusi abad ini, sangat penting bagi kebangkitan eropa setelahnya.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Adalah Sultan Al Makmun yang membangun suatu emperium kekuasaan dan pada saat bersamaan membangun budaya ilmu pengetahuan dan pusat pengembangan IPTEK. Selain kepemimpinan yang kuat, faktor pendorongnya adalah pemanfaatan IPTEK untuk beribadah kepada Tuhan.

Pada abad 19, Jepang melakukan restorasi Meiji. Jepang merasa tertinggal dari negara-negara lainnya sehingga dalam masa restorasi ini hal-hal feodal ditinggalkan dan diganti dengan budaya baru/barat. Restorasi Meiji mempercepat proses industrialisasi di Jepang sekaligus memperkuat kemampuan militer mereka. Pada tahun 1905, Jepang memiliki slogan “Negara makmur, militer kuat”. Sehingga, semua upaya pengembangan IPTEK difokuskan pada industrialisasi dan penguatan kapasitas militer. Meskipun, Jepang kalah perang dan hancur pada perang dunia II, namun budaya pengembangan IPTEK tetap ada dan kita mendapati negara ini sebagai salah satu adidaya.

Korea Selatan di tahun 70/80-an, memiliki profil kemampuan yang serupa dengan negara kita. Namun sejak tahun 1982, Korea Selatan memiliki program penelitian dan pengembangan IPTEK berjangka panjang, skala besar, dan berteknologi tinggi untuk meningkatkan perdagangan/industri di negaranya. Rerata pertumbuhan dana yang digunakan dalam kurun waktu tersebut mencapai kenaikan 26% per tahun. Program tersebut melibatkan partisipasi industri, universitas, dan pusat riset yang didanai oleh pemerintah. Saat ini, sekitar setengah dari pusat riset adalah milik industri swasta dimana sebagian besar jumlah tesebut dikuasai oleh raksasa industri yang dinamakan chaebol.

Langkah yang diambil

Permasalahan penelitian dan pengembangan IPTEK di Indonesia tidak hanya persoalan profesor, namun bagaimana meningkatkan kemampuan dan daya saing bangsa. Justru adalah tanggung jawab pemerintah untuk mengambil langkah-langkah strategis.

Kita telah kehilangan kesempatan dalam pengelolaan kekayaan alam migas dan tambang. Persediaannya semakin menipis namun belum mampu mensejahterahkan rakyatnya. Demikian pula dengan kekayaan hutan. Hutan semakin gundul, namun kesejahteraan belum merata. Sehingga pemerintahan saat ini bertekad untuk mengembangkan sektor kelautan, dan kita kenal jargon Pak Jokowi “Bangsa ini telah lama memunggungi laut.” Demikian pula, Bangsa ini perlu paradigma baru dalam pembangunan ekonomi. Paradigma baru ini adalah pembangunan ekonomi negara yang menempatkan inovasi penelitian dan pengembangan sebagai kunci penggeraknya. Tanpa inovasi penelitian dan pengembangan, nilai produk alam yang kita kelola tidak ada nilai tambahnya.

Terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah. Pertama, meningkatkan anggaran belanja negara untuk penelitian dan pengembangan. Tahun 2013, anggaran Indonesia adalah 0,08% dari GDP,  dibawah dari negara jiran Singapura (2,09%), Malaysia (1,07%), Thailand (0,25%), dan Vietnam (0,19%). Prosentasi anggaran dan kemampuan IPTEK suatu bangsa memiliki korelasi yang sangat tinggi. IPTEK tidak dapat tumbuh subur dalam suasana keterbatasan dan seba kekurangan.

Kedua, menarik Ilmuwan Indonesia berprestasi di luar negeri. Pemerintah dapat menawarkan program khusus, hibah pengembangan laboratorium dan gaji yang menarik. Cara ini, baru saja ditempuh oleh pemerintah China dengan menggelontorkan dana untuk peneliti muda berbakat dengan hibah laboratorium dan program-program pengembangannya. Peneliti ini diberikan jabatan full professor.

Ketiga, memperbaiki atauran-aturan yang menghambat pelaksanaan penelitian. Salah satu penghambat program penelitian di Indonesia adalah ketiadaan anggaran/hibah untuk investasi peralatan. Padahal peralatan penelitian perlu diperbaharui sehingga dapat menciptakan penelitian frontier. Langkah-langkah lain tentunya masih ada dan menjadi kajian kita bersama.

Leave a comment

ALAMAT

Gedung E
Jurusan Teknik Fisika
Fakultas Teknologi Industri (FTI)
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Surabaya 60111
Jawa Timur
Indonesia