Luar Biasa, Natsir Hidayat Mahasiswa TF-ITS Tembus “Erasmus-Mundus” Yunani
 /  Berita / Luar Biasa, Natsir Hidayat Mahasiswa TF-ITS Tembus “Erasmus-Mundus” Yunani
Luar Biasa, Natsir Hidayat Mahasiswa TF-ITS Tembus “Erasmus-Mundus” Yunani

Luar Biasa, Natsir Hidayat Mahasiswa TF-ITS Tembus "Erasmus-Mundus" Yunani

I’m an Erasmus Student. Luar biasa, begitu yang terucap seketika mendengar bahwa mahasiswa yang masih ditingkat 2  Natsir Hidayat P (2413100080) berhasil lolos sebaga salah satu kandidat penerima beasiswa bergengsi “Erasmus-Mundus”. Tidaklah mudah bagi mahasiswa untuk dapat memperoleh beasiswa tersebut. Setelah melalui seleksi yg ketat akhirnya Natsir diterima untuk menjalani studi semester 3 di yunani tepatnya di Aristotle University of Thessaloniki (AUTh). Berikut adalah penuturan mas Natsir yang dikopi dari email terkirim: Yap karena program Erasmus Mundus (sekarang erasmus +) lah saya bisa berangkat keluar negri untuk pertama kalinya dalam hidup saya. Terkadang orang berfikir anak student exchange adalah anak genius yang multi talenta dan lain sebagainya sampai akhirnya orang malas bersaing untuk mendapatkan beasiswa macam student exchange, jangankan mau mendaftar mau memikirkannya saja sudah pusing duluan karena takut tidak diterima dan lain sebagainya. Tapi kalo kita mau mengesampingkan semua pemikiran-pemikiran seperti itu dan mau mencoba pasti ada jalan walaupun sulit, tapi pada akhirnya yang mau bertahan dalam kesusahanlah yang akan mendapatkan.

Erasmus bukanlah kali perdana saya mendaftar beasiswa, sebelumnya juga ada beberapa beasiswa yang saya ajukan seperti telkom, astra, kedubes singapura, dan batan ada yang diterima ada juga yang tidak, sedih? Jelas, tapi harus coba lagi, kalo kata ibu saya “walaupun gagal itung-itung cari pengalaman buat daftar yang lain”. Sebenanya erasmus mundus sudah ada di Indonesia sejak lama namun baru menjalin kerjasama dan membuat konsorsium baru ditahun 2014 bernama interweave dengan 10 universitas di uni eropa dan 10 univestias di Asia. First time i saw interweave’s poster i really interested to apply, gimana enggak coverage allowance aja sampai 1000 euro perbulan belum ditambah tiket pesawat dan asuransi, tuition fees? Free!! Tapi masalah yang saya punya adalah english profiency, karena saya Cuma punya sertifikat toefl 430 hasil tes maba pada waktu itu, akhirnya saya mengurungkan niat saya untuk mendaftar. Ternyata ada 2 teman saya yang mau mendaftar dan sudah berkonsultasi dengan dosen ternyata nilai toefl tidak ada minimumnya, yang salah dari saya adalah jarang berkonsultasi dengan orang yang lebih paham dan hanya asal daftar aja. Akhirnya kami bertiga pun mendaftar walaupun dilihat dari nilai saya dibawah mereka ya balik lagi itung-itung cari pengalaman. Untuk syarat yang dibutuhkan untuk mendaftar program ini memang standar hanya perlu melampirkan dokumen seperti nilai toefl, ipk, cv, surat izin dosen wali, dan mengisi form yang lumayan banyak di account kita. Kita bertiga mendaftar dijurusan yang sama dengan harapan bisa belajar dan saling membantu ketika diterima. Kesalahan selanjutnya dari saya adalah selalu menjadi deadliner saya baru selesai mengupload semua dokumen di jam-jam akhir pendaftaran ditutup satu dokumen salah selesai sudah tidak bisa dikoreksi, so buat yang mau mendapat beasiswa harus latihan sesekali jadi orang well-organized biar ga ada miss dikedepannya.

Hari pengumuman pun tiba awalnya saya mau buka dikosan tapi karena penasaran saya buka via hp dan ternyata ada yang berubah dari halaman interweave saya, tulisannya menjadi “scholarship holder” awalnya bingung dan gatau apa yang terjadi tapi setelah memastikan ke kantor IO ITS selaku yang bertanggung jawab atas hal ini memang benar saya diterima sebagai penerima beasiswa erasmus mundus. Senang rasanya mendapatkan hal sebesar ini dalam hidup saya tapi ada sesuatu yang mengganjal kedua teman saya hanya ada di waiting list dan tidak bisa menemani saya pergi ke benua biru ini. Karena ketika mendaftar saya tidak memberi tahu orang tua saya pada saat pengumuman lah saatnya, mereka agak terkejut dan bangga ketika mendengar berita ini untungnya beasiswa ini ditanggung sepenuhnya oleh uni eropa jadi hanya menghabiskan dana untuk persiapan keberangkatan. Pengumuman dibulan Mei 2014 dan keberangkatanku dibulan September 2014 ada sekitar 4 bulan untuk mempersiapkan keberangkatan dari membuat visa, beli perlengkapan selama disana, mengikuti briefing, sampai memperlancar bahasa inggris dikampung inggris di Pare Kabuaten Kediri. Mebuat visa ternyata ga gampang, kalo mau gampang ya visa turis Cuma ya bukan buat saya yang mau belajar selama satu semester. Mungkin untuk pembuatannya ga saya tulis di artikel yang ini secara garis besarnya kalian bakalan luangin waktu kalian bolak balik Kedubes di Jakarta dan untungnya saya anak Bekasi hehe. Perlengkapan selama di Eropa meliputi kesediaan pangan, pakaian karena akan melewati musim dingin, obat-obatan, dll. Butuh waktu tidak terlalu panjang untuk membeli semua kebutuhan karena sebagian memang sudah ada, tapi mempackingnya butuh bantuan seorang ibu yang merapihkannya haha. Brifieng dilakukan 3 kali, 2 kali oleh ITS IO satu kali oleh erasmus mundus Indonesia yang dibantu oleh alumni erasmus mundus sendiri dan dilakukan di Jakarta tepatnya di Bali Room Hotel Indonesia Kempinski. Pengalaman yang tak terlupakan adalah saya ditawarkan untuk menjadi representave speecher for bachelor program karena yang phd dari UGM dan yang Master dari ITB. Memang bukan kali pertama berbicara bahasa inggris didepan khalayak ramai tapi tantangannya adalah didepan saya ada ambasador Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei serta perwakilan dari mendikbud, syukurlah pidato lancar tanpa hambatan. Walaupun pada awalnya agak nekat mendaftar dengan nilai toefl kecil bukan berarti saya tidak memperhatikan skill inggris saya, saya belajar namun gak tau kenapa susah aja nangkepnya akhirnya saya memutuskan pergi ke kampung inggris di Pare, untuk cerita selengkapnya ada dilain artikel hehe.

Menjelang keberangkatan semua sudah siap, tiket, visa, akomodasi, dll. Kali pertama pergi dari ibu pertiwi selama satu semester ke negeri yang katanya negeri dewa dewi. Perjalanan 12 jam sangatlah melelahkan apalagi harus nyasar selama mencari alamat akomodasi kami. Anggapan yang mengatakan orang Eropa arogan dan egois seperti saya tidak temukan disini, selama disini rasanya biasa saja seperti tempat dimanapun ketika kita bertanya dengan sopan pasti orang lain akan baik pada kita. Thessaloniki adalah kota kedua terbesar di yunani setelah athena orang orang hebat dalam sejarah pernah tinggal disini siapa yang tak tahu filsuf terkenal aristoteles dan orang yang dalam sejarah dikatankan hampir menguasai dunia seperti alexander the great tak hanya itu kota ini merupakan kota kedua terbesar ketika kekaisaran ottoman. Menjadi pelajar yang mendapat kesempatan belajar diluar negeri bukan hanya soal mempelajari apa yang ada dikelas atau diberikan dosen namun lebih dari kita juga belajar kehidupan dan hidup di masyarakat yang budayanya mungkin sangat jauh berbeda dengan apa yang ditemukan di Indonesia. Seperti disini saya harus terbiasa lihat orang begitu santai dengan kopinya karena memang disini budayanya seperti itu atau mereka yang merokok dimanapun atau jam buka toko yang sangat sebentar dll kita harus punya pegangan budaya bangsa sendiri karena belum tentu budaya yang ada di Yunani lebih baik. Awal kedatangan dihadapkan dengan persoalan mencairkan beasiswa dan ijin tinggal. Kok ijin tinggal, kan udah punya visa? Ya itulah kerennya Yunani kita harus lapor dan bawa berkas segala macem ampe akhirnya dapet ijin tinggal. Syaratnya sih gampang Cuma harus nunggu beberapa saat untuk jadi dan rata-rata jam buka public service di Yunani ga lama. Dan setelah tiga minggu lebih disini beasiswapun cair Alhamdulillah. Namanya pertukaran pelajar ya pasti harus belajar tapi karena saya spesial (karena hanya ada 2 orang Asia dijurusan) ya perlakuannya juga harus spesial. AUTh adalah kampus yang sudah banyak menerima mahasiswa asing tapi tidak untuk S1 atau bachelor degree oleh karena itu saya tidak bisa mengikuti kelas karena pelajaran disampaikan dengan bahasa Yunani. Tidak ada kelas bukan berarti dapat nilai secara tiba-tiba dosen disini mengatasinya dengan mengajar saya secara terpisah begitu pula dengan tugas. Kebetulan saya ambil 5 mata kuliah yang sama dengan jurusan saya di ITS walaupun berbeda jurusan namun mata kuliahnya masih sama karena dasar-dasar keteknikan. Bukan perkara mudah menemui dosen yang rata-rata bergelar Prof. Tersebut ada yang sibuk karena ini karena itu tapi semua bisa terselesaikan, karena yang terpenting adalah inisiatif dosen tidak akan mencari kita kemudian memberi tugas atau yang lain lain semua serba mandiri termasuk jadwal belajar karena terpisah dengan yang lain. Hal buruk lain ketika kita tidak inisiatif adalah sistem penilaian dosen berbeda beda jika kita tidak tau dan tidak aktif menanyakan dosen tidak akan tau perkembangan kita apalagi dosen yang sangat super sibuk sekali haha. Because now just my first step of my study here so I cannot tell more about my experience, intinya jangan takut daftar beasiswa apapun selama gaada batasan buat kita (misal : tidak mencapai nilai toefl atau ipk minimum) kalo ada yang bilang sekolah keluar negri ga cinta Indonesia, siapa bilang malah kita bisa promosiin Indonesia keluar tanpa pasang iklan. Emang sih cita-cita orang beda-beda tapi masa gamau sih dapet beasiswa gratis keluar negri diongkosin dan ketemu orang dari berbagai belahan dunia. Dream comes when you think you can reach it. Sekian dari saya ‘kalinita’ it means good night in greek.

Natsir, di Thessaloniki Yunani  2014-( natsirhp@gmail.com

Leave a comment

ALAMAT

Gedung E
Jurusan Teknik Fisika
Fakultas Teknologi Industri (FTI)
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Surabaya 60111
Jawa Timur
Indonesia